Kompleks LPMP Kepulauan Riau, Jalan Tata Bumi Km. 20, Ceruk Ijuk, Bintan, Kepulauan Riau
Posel kantorbahasakepri@kemdikbud.go.id
.jpg)
Turun dari bis, aku bergegas menuju flat yang berjarak kira-kira tiga puluh meter dari halte. Masih ada lima kalianak tangga harus kunaiki untuk sampai di flat.Seharusnya aku sedikit menghemat tenaga, karena lift yang menghubungkan setiap lantai di sayap selatan kompleks flatBedok North ini mengalami kerusakan sore tadi dan sepertinya belum tuntas diperbaiki.
Tetapi malam ini, entah kenapa aku seperti merasa dikejar-kejar. Pemandangan selintas saat beradadi dalam MRT (Mass Rapid Transit) sebelum menyambung perjalanan dengan bis kira-kira setengah jam lalu, masih juga bergentayangan, berseliweran dalam otakku. Tak juga mau pergi meski berbaris-baris doa telah kulafalkan dalam hati. Ups! “Excuse me,” Aku mendongak. Seorang pria jangkung berwajah oriental melewatiku dengan bergegas. Pria itu baru saja nyaris menabrakku. Dia Kevin. Flatnya di blok lima lantai delapan. Tentu saja aku hafal. Karena saat aku tiba di halte sepulang kuliah, Kevin juga pasti sedang berada di sana. Kevin bekerja paruh waktu di sebuah supermarket 24 jam. Dan saat-saat kepulanganku dari kampus selalu bertepatan dengan saat Kevin pergi bekerja. Membuat kami cukup sering bertegur sapa. Meskipun Kevin tampak pendiam, ia cukup ramah saat diajak ngobrol.
Tetapi malam ini, melihatnya aku merasa aneh. Kenapa Kevin baru akan pergi bekerja selarut ini? Dan wajahnya seperti menyiratkan ketakutan. Aku mengedik bahu. Konyol sekali rasanya kalau aku memutuskan untuk mengejar Kevin hanya untuk bertanya tentang itu.
Aku baru saja menaiki anak tangga terakhir ketika sekelebatan sosok itu lewat didepanku. “Hey! Apa yang kau ….!”Terlambat. Sisa pertanyaanku tersangkut di teng- gorokan, dan kedua mataku membeliak saat sosok itu dengan secepat kilat memanjat tembok di sisi koridor. Bug! Aku mendengar suara benda jatuh. Kedua lututku langsung menggigil. Nyaris tak punya kekuatan saat melangkah perlahan mendekati tembok. Degup jantungku serasa meng- guncang t-shirtku ketika kupak- sakan kepala untuk melongok ke bawah. Gelap mendominasi halaman berumput tepat di tengah-tengah barisan flatyang mengelilinginya. Hey? Di mana dia? Alisku langsung mengernyit. Melongokkan kepala lebih ke bawah namun tetap tak kutemui sesosok perempuan tergeletak di sana. Ah. Rasanya inderaku tak mungkin berdusta. Aku melihat per- sis, bahkan jarakku hanya terpaut tiga meter dengan perempuan itu sebelum dia melompat. Atau jangan-jangan? Kepalaku langsung berdenyut-denyut saat menyadari kemungkinan lain tengah terjadi saat ini.
Kutarik kepalaku ke belakang. Secepatnya mengusir jauh-jauh apa yang baru kusaksikan barusan.Suasana dalam flatku tampak gelap ketika pintu dan teralisnya kubuka dengan kunci duplikat. Pukul sepuluh lewat dua puluh. Tak biasanya Mieke dan Sonya cepat sekali tidur.Namun aku tak ingin memikirkan apa-apa lagi. Peristiwa barusan telah membuatku sangat letih. Aku segera masuk ke kamar, berganti baju dengan piyama lalu mengempaskan tubuhku di tempat tidur.
Rasanya aku baru beberapa menit terlelap saat terdengar suara gaduh. Kenapa Sonya dan Mieke mendadak kompak terbangun? Aku menajamkan telinga. Bukan, Keributan ini bukan berasal dari Mieke dan Sonya, melainkan berasal dari luar flat.
“Ada apa sih ribut-ribut tengah malam?”Aku mengucek mata yang terasa sepet. Samar-samar aku melihat Sonya dan Mieke yang sedang berdiri di tepi jendela dan tengah menatap sesuatu di luar sana dengan amat sangat serius.
“Hey, kok pertanyaanku digratisin sih?”
“Sst.” Mieke yang lebih dulu bereaksi.“Ada orang mati.... bunuh diri!”
What? Kelopak mataku
langsung meregang.
“Sepertinya dia terjun. Atau....hey? Lihat! Itu Kevin
‘kan?”
Sonya memekik. Telunjuk- nya terarah lurus ke bawah.
“Mana?” Mieke celingukan. “Itu! Yang digiring polisi!” “Mana?”
Aku mengikuti arah telun- juk Sonya. Benar. Sosok jangkung itu tampak menonjol di tengah kerumunan. Bukan hanya karena tingginya yang di atas rata-rata tetapi juga karena hanya ia satu-satunya yang berjalan den- gan tangan terborgol dan diapit polisi!
“Hey, mau kemana?” Sonya spontan bertanya.
“Ke bawah!” jawabku seraya menyambar sendal dan meraih kunci yang tergantung di dinding. “Ya ampun Re, ini udah tengah malam, lihat dari sini aja kenapa?”
“Nggak puas!”
Tanpa peduli suara Sonya yang melenguh gemas, aku bergegas menuju basement. Dan....sekali lagi aku harus berserobok dengan Kevin saat ia akan didorong masuk ke mobil polisi. Mulutnya terkunci rapat, namun sepasang matanya seakan hendak mengatakan sesuatu. Aku hanya bisa mematung, menatap kepergian mobil polisi yang membawa Kevin hingga lenyap dari pandangan. Sejumlah penghuni flat masih berkerumun, saling mengomentari dan membicarakan peristiwa itu. Peristiwa tragis yang baru kali pertama terjadi di kompleks flat ini. Terdapat garis polisi yang melingkari sepetak lokasi dengan goresan putih pada permukaan tanah yang membentuk sesosok tubuh. Itu pasti lokasi tempat terjatuhnya perempuan itu. Sementara mayat perempuan itu, sudah tak ada lagi.
“Siapa yang mati?”
Aku bertanya pada seorang wanita setengah baya.
“Lily. Penghuni flat ini juga. Tinggalnya di lantai sembilan.”
“Lalu...kenapa cowok tadi.... maksud saya, Kevin...kenapa ia dibawa polisi?”
“Dia yang dituduh telah membunuh Lily. Sebelumnya, ada yang melihat mereka bertengkar hebat.”
Jantungku kembali berdebur kencang. “Jam berapa kira-kira kejadiannya, bu?” tanyaku lagi. Wanita itu mengedik bahu.“Tidak ada yang tahu persis.Tapi rasanya belum terlalu lama. Mungkin baru satu dua jam yang lalu.”Jawaban itu membuatku spontan melirik arlojiku. Pukul dua pagi! Satu dua jam yang lalu. Berarti apa yang kulihat saat baru pulang tadi....?
Ya Allah. Aku perlahan meninggalkan kerumunan, mengurut pelipis yang mulai berdenyut-denyut. Ini adalah sisi kehidupanku yang paling membuatku pusing. Tak pernah kuinginkan sepasang indera tersembunyi dibalik mata telanjang ini, memiliki kemampuan untuk meneropong peristiwa yang akan terjadi di masa depan ataupun yang telah menjadi milik masa lalu. Orang lain boleh bangga, atau bahkan memanfaatkan kelebihan itu untuk mencari uang, tapi aku, menganggapnya tak lebih dari tipuan iblis.
Bukankah hanya Dia satu-satunya yang Maha Mengetahui apa yang bakal terjadi di kemudian hari? Langkahku gontai saat kembali ke flat. Tak kupedulikan celoteh Mieke dan Sonya yang penasaran dan sibuk bertanya-tanya informasi apa saja yang berhasil kudapatkan.
Sebaliknya aku langsung masuk dan mengunci kamar. Berusaha memejam mata rapat-rapat dan melupakan semua yang terjadi.
******
Tiga hari terlewati. Kevin masih ditahan polisi. Begitu juga garis polisi masih terpasang di lokasi kejadian. Tapi sialnya, selama itu pula setiap malamku terus-menerus dihantui mimpi buruk. Mimpi didatangi oleh arwah Lily. Mimpi yang tak hanya sekadar buruk.Tetapi juga menyeramkan. Perempuan bernama Lily itu, datang kepadaku dengan batok kepala pecah, tubuh berlumuran darah dan sebelah tangannya nyaris terlepas. Hiii!
Aku terbangun dengan bersimbah peluh. Juga detak jantung yang jauh lebih hebat debarannya.Ya Allah. Bagaimana mungkin ‘kelebihan’ ini bisa kunikmati kalau setiap kali peristiwa kematian yang kulihat harus selalu mendatangiku? Satu hal yang masih tertinggal dibenakku, dalam setiap ‘kehadirannya’, Lily berusaha menyodorkan padaku selembar surat. Surat yang telah kumal dalam genggamannya. Surat apa gerangan? Entahlah.
Dan hari ini, aku memutuskan untuk mencari tahu rahasia dibalik surat itu. Bukannya aku kurang kerjaan, tetapi aku benar-benar tak tahan terus-menerus dihantui arwah Lily. Padahal, aku tak pernah kenal siapa Lily. Dan apa hubungan Lily dengan Kevin. Aku hanyalah seseorang yang selalu menjadi ‘korban’ dari setiap peristiwa tragis yang kulihat atau kebetulan melintas di depanku. Peristiwa yang tentu saja hanya tertangkap oleh inderaku yang ganjil ini.
Aku mengetuk pintu itu sedikit ragu. Pintu flat tempat tinggal Lily. Aku mendapatkan informasi dari tetangga yang kebetulan mengenalnya. Seorang wanita berambut pendek dan bermata sipit membuka pintu, namun ia tidak membuka teralisnya.
“Siapa ?” tanyanya. Sama sekali tidak ramah.
“Saya Reney. Saya tinggal di lantai enam flat ini. Saya turut berduka cita atas kepergian Lily.”jawabku. “Oh, terima kasih.”ucapnya singkat dan acuh tak acuh.
Aku memutar otak sebelum wanita ini keburu menutup pintunya.“Mm, boleh saya bicara dengan ibu? Ada yang mau saya sampaikan, tentang Lily.”
Alis wanita itu mengernyit. Namun akhirnya ia menggeser juga teralisnya. “Tentang apa?” tanyanya dingin saat mempersilakanku duduk di sofa.
“Begini bu. Ini mungkin kedengarannya aneh. Tapi saya bersumpah bahwa apa yang saya katakan ini benar. Nyatanya Lily memang terus-menerus hadir dan mengganggu mimpi saya.”
Wanita itu tampak terkejut. Namun aku tak peduli. Justru kugunakan kesempatan ini untuk menceritakan semuanya apa adanya. “Saya berharap, ibu mau meluangkan waktu untuk mencari surat itu. Mungkin, ada sesuatu yang hendak disampaikan Lily. Saya berjanji, ini adalah kedatangan saya yang pertama dan terakhir. Jika ibu tak berhasil menemukan surat itu, ibu boleh membenci atau tak memercayai saya selamanya. Saya permisi.”
Aku beranjak pergi. Masih sempat kulihat wajah wanita itu yang termangu dan pandangannya yang menerawang saat mengantarkanku ke pintu. Entah apa yang ada dalam pikirannya, namun aku merasa lega karena telah berhasil menyampaikan ‘pesan’ Lily.
*****
Dua Minggu kemudian, Semuanya kembali seperti biasa. Garis polisi telah beberapa hari lalu dicabut dari lokasi kejadian. Dan warga flat mulai melupakan kejadian itu. Sejak kedatanganku menemui ibu Lily tempo hari, arwah Lily juga tidak pernah lagi mengusik tidurku. Syukurlah.
Pagi ini aku baru saja mengunci pintu, siap untuk berangkat kuliah. Sonya dan Mieke telah lebih dulu pergi, karena kuliah mereka memang tiga jam lebih awal.
“Reney…” aku menoleh. Hey, tak salahkah penglihatanku? Tepat berdiri dihadapanku, da- lam jarak satu setengah meter…. Kevin!
Aku masih bergeming saat Kevin menghampiriku. “Kamu…bukankah kamu….?” Pertanyaanku tercekat di tenggorokan. Langsung mampet saat kulihat Kevin tersenyum. Senyum yang segera melayangkan memoriku dan mentok dengan sukses pada artis Korea tampan Lee Min Ho.
“Ya. Kemarin aku memang sempat ditahan.Tapi sekarang aku sudah bebas. Aku tidak ter- bukti bersalah.Terima kasih, Re. Berkat pertolonganmu aku bisa bebas.”
“Pertolonganku?”aku mengernyit bingung.
“Tempo hari orang tua Lily datang ke kantor polisi. Mereka mengantarkan surat
yang ditulis Lily pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya. Surat itu menjadi bukti bahwa Lily memang mati karena bunuh diri. Ia menulis apa penyebab kenekatannya sekaligus permintaan maaf. Hasil autopsijuga menunjukkan bahwa tidak ditemukan ada jejak kekerasan di tubuh Lily selain murni karena terjatuh. Dan baru kemarin aku tahu, bahwa kaulah yang telah memberitahu tentang surat itu pada keluarga Lily.” “Oh. Selamat…untuk kebebasanmu.”aku mengucapkannya setelah terdiam beberapa detik. Perlu waktu untukku memahami apa yang baru saja kudengar dari mulut Kevin. “Apakah kau kekasih Lily?” Ups! Apa perlunya aku bertanya?
Kevin menggeleng. Lagi-lagi ia tersenyum. “Aku hanya akan memberitahumu kalau kau mau menceritakan padaku darimana kau tahu tentang surat itu.”
Aku mendongak. Seketika memalingkan muka saat menyadari bahwa senyum Kevin, entah kenapa mulai menghadirkan detak tak beraturan di dadaku. “Aku…harus pergi kuliah. Tidak bisa menceritakan padamu sekarang.”
“Oke, kalau begitu, bagaimana kalau pulang kuliah? Kutunggu kau di halte? Kebetulan, hari ini aku belum masuk kerja. Aku mau mentraktirmu, anggap saja sebagai tanda ucapan terima kasihku.” “Baiklah.” jawabku singkat tanpa berani memandang wajah Kevin. Namun kusadari bahwa Kevin terus menatapku hingga tubuhku meninggalkan pandangannya. Ah. Tak sabar sekali rasanya menunggu saat-saat pulang kuliah nanti.
Untuk kali pertama, aku tidak benar-benar menganggap ‘kelebihan’ ini menyusahkan, walau suatu hari nanti, aku tetap menginginkan semua bayang-bayang itu pergi seutuhnya dari hidupku. Jantungku berdebur lagi saat menoleh ke arah Kevin, tapi kali ini bukan karena aku telah melihat sesuatu yang ganjil. Ah. Tak perlulah kuberitahu, karena kau pun telah tahu.