Selasa 26 Mei 2026
 Beranda / Profil / Kepala KBP Kepri

Kepala KBP Kepri

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau dari Masa ke Masa

 

 

1. Drs. Imam Budi Utomo, M.Hum. (2009—2012)
Imam Budi Utomo adalah pimpinan pertama Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau. Ia dilahirkan di sebuah desa kecil di Kabupaten Tuban, pada dini hari 20 Mei 1966. Pendidikan dasarnya di SDN 1 Rengel, Tuban (tamat 1979), lalu ke SMPN 1 Rengel, Tuban (tamat 1982), dan SMAN 1 Tuban (tamat 1985). Ia kemudian melanjutkan pendidikan strata satu di UNS, jurusan Sastra Daerah (lulus pada 1990) dan pendidikan S-2 di UGM diselesaikannya pada 2004 dengan predikat cumlaude. 
 
Selepas meraih gelar S-1, pada 1991 beliau diterima sebagai PNS di Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta (sekarang Balai Bahasa Provinsi DIY). Kemudian lelaki yang akrab disapa Pak Imam itu diberi amanah untuk memimpin Kantor Bahasa Kepulauan Riau pada 2009. Beliau juga sempat setahun merangkap jabatan sebagai Kepala Subbagian Kerja Sama di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Pada 2012, beliau dipindahkan ke Kalimantan Timur sebagai Kepala Kantor Bahasa di sana hingga 2017.
 
Setelah itu, ia dipromosikan sebagai Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan. Setelah tiga tahun bertugas di Bumi Lambung Mangkurat, ia dirotasi ke Balai Bahasa Provinsi DIY sebagai kepala sejak 12 Agustus 2020 sampai dengan 31 Januari 2021. Pada akhir 2021, beliau mengikuti seleksi JPT Pratama di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan pada tanggal 28 Januari 2022, Pak Imam ditugaskan sebagai Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra yang merupakan eselon II Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta terakhir pada 7 Januari 2025, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
 
Selain sebagai pejabat struktural, dosen luar biasa UIN Yogyakarta periode 2006—2009 yang mengampu mata kuliah bahasa Indonesia ini pernah pula ”mencicipi” sebagai pejabat fungsional peneliti. Karier sebagai peneliti diawali pada 1995 sebagai Asisten Peneliti Muda, III-a. Tiga tahun berikutnya, pada 1998 menjadi Ajun Peneliti Muda, III-c. Pada 2000, beliau menjadi Peneliti Muda, golongan IV-a. Karena melanjutkan studi S-2, karier sebagai peneliti sempat terhambat beberapa tahun. Namun, pada 2008 beliau kembali mengajukan persyaratan sebagai peneliti dan diangkat sebagai Peneliti Madya, IV-b. Lalu, pada 2010 sebagai Peneliti Madya, IV-c, hingga menjadi Peneliti Utama, IV-d pada 2014. Karier fungsional beliau tertahan karena memilih pengembangan karier di jalur struktural.   
 
Sebagai peneliti, penyuluh, dan penyunting bahasa dan sastra, beliau aktif melakukan berbagai kajian dan mempresentasikan hasil penelitiannya di berbagai pertemuan ilmiah. Sejumlah hasil kajiannya juga dimuat atau diterbitkan di berbagai jurnal ilmiah dan beberapa penerbit pemerintah maupun swasta. Ia pernah pula meraih juara II penulisan esai sastra yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Yogyakarta. Beberapa jurnal yang memuat artikel ilmiahnya, antara lain, adalah Widyaparwa, Jawa, Filantropi, Jurnal Poltek (Yogyakarta), Kajian Sastra (Semarang), Jurnal Atavisme (Surabaya), Nuansa (Denpasar), Bahasa dan Sastra, Jurnal Kebudayaan, Jurnal Wacana (Jakarta), Jurnal Pangsura (Brunei Darussalam), dan Jurnal Pengajian Melayu (Malaysia). Adapun salah satu penelitan bersama yang telah diterbitkan atas sponsor The Ford Foundation adalah Eskapisme Sastra Jawa.
 
 
2. Drs. Dwi Sutana, M.Hum. (2012—2017)
Dwi Sutana adalah pimpinan kedua Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau. Pria kelahiran Klaten, 22 Januari 1965 ini merupakan lulusan S-1 Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret pada tahun 1989. Pendidikan Strata duanya ditempuh di S-2 Linguistik Universitas Gadjah Madah, tamat tahun 2006. 
 
Karier pegawainya dimulai sejak diangkat sebagai CPNS pada 1 Maret 1991, sedangkan karier jabatan struktural dimulai sejak diangkat sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau dengan nomor SK 14388/A4/KP/2012. Beliau menjabat selama 5 tahun sejak 2012—2017. Pada tahun 2017 mendapat promosi sebagai Kepala Balai Bahasa Sumatra Barat, nomor SK 78689/A.A3/KP/2017 sejak 2017—2020, lalu pindah sebagai Kepala Balai Bahasa Sulawesi Utara nomor SK 67757/MPK.A/RHS/KP/2020 sejak 2020—2022. Pada tahun 1 Januari 2023, beliau memutuskan beralih sebagai pejabat fungsional dengan jabatan Widyabasa Ahli Madya Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Bahasa. 
 
Ia pernah mendapatkan sejumlah diklat teknis di bidang linguistik, seperti Penataran Linguistik I Pusat Bahasa, Kemdiknas (1996), Penataran Linguistik II Pusat Bahasa, Kemdiknas (1999), Penataran Penyuluh Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Kemdiknas (1994), Penataran Leksikografi MABBIM (2004), Peningkatan Kompetensi Tenaga Fungsional Peneliti Balai/Kantor, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2012), Pembinaan Tenaga Ahli Bahasa yang bertugas di DPR/DPRD Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Bada Bahasa, Kemdikbud (2013).
 
Selain itu, Pak Dwi juga mengikuti sejumlah diklat struktural, di antaranya adalah Diklatpim IV Pusbangtendik, Badan Pengembangan SDM dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kemdikbud (2013), Diklatpim III Pusbangtendik, Badan Pengembangan SDM dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kemdikbud (2018). 
 
Menulis adalah bagian dari kehidupan seorang Dwi Sutana. Tulisan-tulisannya umumnya berkaitan dengan bahasa Jawa. Berikut ini sejumlah karya beliau, yaitu Kesinambungan dan Penonjolan Topik dalam Wacana Narasi Bahasa Jawa (Jantera Intermedia Yogyakarta, 2006), Perian Semantik Leksem Alat-Alat Pertukangan Seng/Patri dalam Bahasa Jawa (Widyaparwa, 2010), Kajian Ringkas tentang Sistem Koherensi dalam Bahasa Jawa (Prosiding Forum Peneliti, Kemdikbud, 2011), Eufimisme sebagai Tindak Komunikasi yang Beradab dalam Bahasa Jawa (Madah, 2012), Perian Semantik Leksem-Leksem yang Berkonsep ‘Bermusik dengan Mulut’ dalam Bahasa Jawa (Metalingua, 2013), Sastra Pengajaran dan Pengembangannya (Gramatika, 2013), Wacana “Manyanyah” dalam Surat Kabar Haluan Kepri: Analisis Makrostruktural (Metalingua, 2014), dan Mencermati Frasa Numeralia dalam Bahasa Jawa (Sawerigading, 2014). 
 
Dwi Sutana mendapatkan penghargaan pengabdian sebagai ASN berupa Bintang Satya Lencana Karya Satya XX pada tahun 2011 dan Bintang Satya Lencana Karya Satya XXX pada tahun 2024.
 
 
3. Zuryetti Muzar, S.E. (2017—2020)
Pimpinan ketiga Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau adalah Zuryetti Muzar, S.E.. Wanita asal Riau tersebut lahir di Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau pada tanggal 11 Mei 1976. Beliau menyelesaikan pendidikan dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) di Duri, Riau. Pendidikan strata satunya ditempuh di Universitas Sumatra Utara jurusan Akuntansi.
 
Zuryetti Muzar diangkat sebagai PNS pada 2005 sebagai Pembantu Pimpinan di Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Ia bekerja sebagai staf Tata Usaha (BMN) yang mengurusi pembangunan Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Beliau bertugas di Kendari hingga tahun 2009, lalu pindah ke Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau yang berada di Komplek Museum Sultan Badrul Alamsyah Tanjungpinang, Jalan Kamboja pada bulan Oktober 2009, bulan yang sama dengan peresmian Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau oleh Wali Kota Tanjungpinang, Ibu Suryatati Abdul Manan. 
 
Ketika itu, yang menjabat sebagai pimpinan Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau adalah Drs. Imam Budi Utomo, M.Hum.. Zuryetti Muzar sempat menjabat sebagai Bendahara Pengeluaran dan Perencana sejak 2010 s.d. 2017. Pada tahun 2017, beliau mendapatkan promosi jabatan sebagai pejabat struktural menjadi Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau menggantikan Drs. Dwi Sutana, M.Hum. yang pindah ke Padang, Sumatra Barat. 
 
Sebagai Pimpinan Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau, beliau menjabat hingga tahun 2020. Pada saat itu lokasi Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau berada di Komplek Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kepulauan Riau di Jalan Tata Bumi, Ceruk Ijuk, Toapaya, Bintan. Sekarang lembaga ini bernama Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kepulauan Riau. Selama menjabat, beliau aktif melaksanakan tugas yang berkaitan dengan kebahasaan dan kesastraan dan mendukung penelitian kebahasaan dan kesastraan di wilayah Kepulauan Riau. Setelah tiga tahun bertugas, beliau dimutasi sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha di Balai Bahasa Provinsi Riau hingga tahun 2022. Semenjak menjabat jabatan tersebut, beliau menetap di Kota Pekanbaru, Riau.

 

4. Asep Juanda, S.Ag., M.Hum. (2020—2022)

Pimpinan keempat Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau adalah Bapak Asep Juanda, S.Ag., M.Hum.. Pria asal Bandung tersebut lahir di Bandung, 3 April 1974. Pendidikan strata satunya ditempuh di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung selama 5 tahun sejak 1993 hingga 1998. Setelah itu, ia melanjutkan strata duanya ke Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung selama tahun 2014 hingga tahun 2016.
 
Asep Juanda diangkat sebagai PNS pada 2006 sebagai Pembantu Pimpinan di Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat. Ia bekerja sebagai fungsional umum hingga tahun 2012. Setelah itu, beliau diangkat sebagai Peneliti Sastra di lembaga yang sama hingga tahun 2020. 
 
Sejak tahun 2020, Asep Juanda mendapat promosi jabatan sebagai pejabat struktural menjadi Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau selama dua tahun (2020—2022). Setelah dua tahun bertugas di Negeri Gurindam 12, beliau dirotasi sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten (2022—2025). Dalam kesibukannya sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau, Pak Asep Juanda masih menyempatkan diri menulis di harian lokal di Kepulauan Riau. Beberapa tulisannya tertuang dalam prosiding dan juga menghiasi rubrik atau kolom opini saat itu, seperti Jiwa Entrepreneur Tokoh Utama dalam Novel Ayat-Ayat Cinta 2 Karya Habiburrahman El Shirazy (2019), Ramadan, Lailatulqadar, dan Nuzululquran (2021), Tajar Memang Wajar (2021), serta Selintas Sastra, Bahasa, dan Literasi di Kepulauan Riau (2022). 
 
Pak Asep, begitu panggilannya, berasal dari Desa Mekarmukti, Kec. Cihampelas, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat. Semenjak menjabat sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, beliau menetap di Kota Serang, Banten.
 
 

5. Rahmat, S.Ag., M.Hum. (2022—2025)

Pria Aceh ini dilahirkan di Banda Aceh, 48 tahun lalu. Putera ke 6 dari 7 bersaudara tersebut menempuh pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Krueng Raya, Aceh Besar. Kota kediaman masa kecilnya, sekitar 30 km dari Banda Aceh. Lalu, melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Banda Aceh dan Madrasah Aliyah Program Khusus Negeri Banda Aceh, MAN unggul yang siswanya hasil seleksi siswa dari Sumatra Utara dan Aceh. Sebelum bekerja di Balai Bahasa Banda Aceh pada Desember 2002, Lulusan Fakultas Tarbiyah, Tadris Pendidikan Bahasa Inggris, UIN Ar Raniry Darussalam, Banda Aceh tahun 2000 ini pernah menjadi guru kontrak Provinsi Aceh di SMAN 1 Banda Aceh pada tahun 2001 selama 6 bulan. 
 
Pada Desember 2002, ia diangkat sebagai CPNS di Balai Bahasa Provinsi Aceh dan meniti karier sebagai Pengkaji Bahasa (2002—2010). Pada tahun 2010 ia meraih beasiswa S-2 dari Kemdikbud untuk belajar di Magister Linguistik, Universitas Sumatera Utara. Agustus 2012, ia meraih gelar Magister Humaniora dengan predikat pujian. Pascastudinya, ia kembali ke institusinya menjadi Pengkaji Bahasa hingga 2016. Setelah itu, ia diangkat sebagai Penyuluh Bahasa (2016—2019). Setelah lulus Diklat Peneliti LIPI, sejak 2019—2022, ia diangkat sebagai Peneliti Bahasa Ahli Muda bidang Linguistik Terapan. Setelah sekian tahun menekuni profesi sebagai pejabat fungsional, ia mendapat kepercayaan menjabat sebagai pejabat struktural sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau yang dilantik pada 18 Mei 2022 di Jakarta.  
 
Beragam diklat teknis kebahasaan telah diikutinya, seperti Diklat Tenaga Teknis Kebahasaan Tingkat Pertama (Jakarta, 2006), Diklat Tenaga Pengajar Bahasa Indonesia Untuk Penutur Asing (Jakarta, 2007), Diklat Teknis Penyuluh Bahasa (Jakarta, 2016), Diklat Jabatan Fungsional Peneliti pertama LIPI (Bogor, 2016), Diklat Penyuntingan Naskah Bidang Ilmu (Jakarta, 2018), Diklat Ahli Bahasa Forensik (Jakarta, 2018), Diklat Kompetensi Ahli Bahasa Hukum (Jakarta, 2020), dan Diklat Kompetensi Ahli Bahasa Tingkat Lanjut (Jakarta, 2021). Selain itu, beberapa diklat manajerial pun telah diikutinya, seperti Pelatihan Teknis Implementasi RB/ZI bagi Pimpinan (2023), Pelatihan Teknis Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tingkat Lanjut (2023), Sosialisasi Pencegahan Tiga Isu Kekerasan di Lingkungan Kerja (2023), serta Manajemen Informasi Pengelolaan Risiko (2024).
 
Pria berkaca mata minus tiga ini juga banyak telah melakukan beberapa penelitian baik dalam ranah kajian sastra maupun bahasa. Tulisannya juga beberapa kali menghiasi rubrik bahasa dan sastra di beberapa surat kabar daerah. Di antara karya tulis dan tulisan populernya, antara lain: Jati Diri Bahasa Aceh (2004), Hiem; Sastra Lisan Tradisional Masyarakat Aceh (2005), Lilin; Analisis Puisi A. Hasjmy (2005), Everyday Acehnese (2005), Ejaan Bahasa Aceh: Kreh, Kreh, Kreuh, Siapa Peduli? (2006), Urgensi Pembakuan Sistem Ejaan Bahasa Aceh (2007), Pemakaian Bahasa Aceh pada Media Luar Ruang (2007), Kajian Morfologi: Klitik Bahasa Aceh (2010), Praktisi Penerjemahan: Seluk Beluk, Urgensi, dan Tanggung Jawab Profesi (2012), Eufemisme dan Politisasi Bahasa (2012), Bahasa Seksis (2013), Kesantunan Imperatif (2013), dan Minat Tulis Bahasa Aceh (2013), Bahasa, Kantor Bahasa, dan Kegelisahan Kita (2022), Refleksi Hari Ibu: Dari Pilihan Kata ‘Ibu atau Cinta’ hingga Bahasa (2022), Menyambut ”Pesta” Bulan Bahasa 2023 (2023). dan Etimologi “Mudik” (2024).
 
 
6. Dr. Titik Wijanarti, S.S., M.A. (2025sekarang)
 

Titik Wijanarti lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 14 Februari 1977 sebagai anak tunggal.  Pendidikan jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas diselesaikan di Kutoarjo, sebuah kota kecil di Kabupaten Purworejo.  Pendidikan S-1 ditempuh di Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Diponegoro lulus tahun 1999 dengan predikat lulusan terbaik.  Pada tahun 2002, beliau diterima sebagai CPNS di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah sebagai tenaga teknis bidang kebahasaan dan kesastraan.  Pada tahun 2006 hingga 2009, beliau menempuh pendidikan S-2 pada Jurusan Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta.  Selanjutnya, pada tahun 2011 beliau diangkat sebagai fungsional peneliti ahli muda bidang sastra. Pada bulan Januari 2016, beliau mengalami mutasi ke Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan atas permintaan sendiri untuk mengikuti suami yang bertugas di Universitas Lambung Mangkurat.  Selanjutnya, pada tahun 2017 hingga 2021, beliau kembali menempuh pendidikan S-3 pada Jurusan Ilmu Kajian Budaya, Universitas Sebelas Maret dan lulus dengan predikat lulus dengan pujian. Pada tahun 2022, adanya kebijakan terhadap para peneliti untuk bergabung ke BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Titik Wijanarti tetap bertahan di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan dan beralih jabatan sebagai Analis Kata dan Istilah. 

Dalam perkembangan selanjutnya yaitu bulan Februari 2023, Titik Wijanarti dilantik sebagai fungsional Widyabasa Ahli Muda.  Ketika menjabat sebagai fungsional Widyabasa Ahli Muda, Titik Wijanarti banyak terlibat dalam program pelindungan dan pemodernan bahasa dan sastra daerah, salah satunya program Revitalisasi Bahasa Daerah di Provinsi Kalimantan Selatan.  Selain itu, beliau juga banyak terlibat dalam kegiatan pembinaan bahasa dan hukum seperti narasumber penyuluhan, bimbingan teknis penulisan naskah dinas, dan juga saksi ahli bahasa di kepolisian.  Selanjutnya, pada 24 Februari 2025, beliau dilantik oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau.