Senin 20 Juli 2026
 Beranda / Kegiatan / Sastra
Cerpen Nyanyian Hati Lauren - Evellyn
Selasa 14 Januari 2020

Seperti biasanya, malam itu rumah Pak Tommy dipenuhi suara jeritan dan tangisan. Anak- nya, Lauren, ketahuan menyembunyikan kertas ulangan yang dibagikan oleh gurunya sejak kemarin. Bukan tanpa sebab, Lauren takut dihukum ayahnya karena mendapatkan nilai 98. “Kamu ini! Sudah berapa kali ayah ingatkan, kerjakan dengan teliti agar tidak ada kesalahan, periksa jawaban sebelum dikumpulkan. Mengapa kamu sulit sekali diajari?” PLAKK!

Sebatang rotan mendarat kuat di telapak tangan Lauren. Bocah 11 tahun itu menangis sejadi-jadinya. Namun, semakin ia menangis, pukulan semakin kuat.

“Masih berani menangis? Kamu anak laki-laki, tidak boleh menangis!”

Bukan pertama kalinya terjadi, Lauren sering mendapatkan hukuman dari ayahnya walaupun ia hanya melakukan kesalahan kecil. Pak Tommy ingin anak laki-lakinya menjadi anak yang mandiri dan hebat, baginya didikan yang keras sudah sepatutnya diterapkan. Berbeda dengan si bungsu, Lusy, Pak Tommy sangat menyayangi sifat putrinya yang penyayang dan penurut. Tak hanya itu, Pak Tommy juga bangga dengan Lusy, cantik, pintar, baik hati, sempurna di matanya. Sayangnya, satu kesalahan Pak Tommy yaitu sering membanding-bandingkan kedua anaknya. Ternyata, perbedaan antara pujian dan remehan itu menimbulkan rasa pesimis di hati Lauren.

Seiring berjalannya waktu, Lauren pun sering menjaga jarak dengan ayahnya. Selain makian, pukulan, dan perintah, ia tak pernah mendapatkan apapun dari ayah, lebih-lebih pujian. Hal ini menyebabkan Lauren menjadi seorang anak yang pendiam, mudah menyerah, dan takut untuk mencoba. Setiap kali ayah selesai memarahi dirinya, ia akan mengurung diri di kamar dan melampiaskan emosinya dalam sebuah buku harian.

Hari demi hari, buku itu pun dipenuhi tulisan. Lama kelamaan, buku harian itu pun bertumpuk dan memadati lemarinya. Tak ada yang berubah, bertambahnya usia bertambah pula tuntutan Pak Tommy kepada Lauren. Tentu saja hal ini membuat Lauren sangat tertekan.

Suatu hari ketika Lauren sedang bepergian,  Lusy bermain di kamar Lauren tanpa sepengetahuan dirinya, termasuk Pak Tommy. Lusy mengutakatik barang-barang yang ada di atas meja Lauren, membongkar rak- rak buku yang tertata rapi, dan tanpa sengaja ia membuka lemari berisi buku harian kakaknya yang lupa dikunci. Dibacanya satu per satu isi buku harian itu walau tak sepenuhnya mengerti. Tepat di saat itu juga, Pak Tommy yang mengintip anaknya dari daun pintu berjalan mendekat.

“Lusy, sedang apa kamu di sini? Mengapa kamu masuk ke kamar kakakmu tanpa izin?” tanya Pak Tommy pada Lusy. Lusy yang melihat kedatangan ayahnya memberikan senyuman kecil. Dengan polosnya, ia menawarkan buku-buku itu kepada ayahnya. “Ayah, apa yang Kak Lauren tuliskan di sini?”

Pak Tommy yang tadinya berseri-seri seketika terbelalak melihat coretan dan tulisan-tulisan berhuruf kapital yang memenuhi buku anaknya itu. Alangkah terkejutnya Pak Tommy setelah membaca kalimat-kalimat makian, keluhan, dan curahan hati yang tertulis di dalamnya. Perasaan Pak Tommy bercampur aduk, sedih, kecewa, marah, dan sakit hati.

“Terkadang aku merasa aku bukan anak ayah. Sepertinya ayah membenciku, dan sepertinya aku juga membencinya.” “Aku Benci Ayah! Sangat Benci!”

“Kenapa ayah memperlakukanku seperti itu? Ayah hanya menyayangi Lusy.”

“Aku tak ingin memiliki ayah seperti dia!”

“Aku sayang ayah tapi ayah memperlakukanku dengan kasar.”

Itulah kalimat yang diulang-ulang dalam buku harian Lauren. Pak Tommy yang berlinangan air mata kecewa merobek kertas-kertas itu. Lusy pun terkejut melihat ayahnya.

“Ayah kenapa? Ayah, jangan marah. Lusy sayang ayah,” kata Lusy memeluk ayahnya sambil menahan air mata ketakutan.

Pak Tommy yang telanjur sakit hati memeluk putri kesaya- ngannya itu erat-erat.

“Ayah menyayangimu, Lusy. Jangan seperti kakakmu.”

“Ada apa dengan Kak Lauren?”

Pak Tommy tak ingin menjawab pertanyaan putrinya. Diajaknya Lusy keluar dari kamar Lauren. “Lusy, pergilah bermain di halaman rumah.”

Lusy yang penurut bergegas keluar dan membiarkan ayahnya menenangkan diri. Tak lama kemudian, istri Pak Tommy, Bu Lisa pulang bersama Lauren. Melihat sosok yang duduk di sofa dengan tatapan putus asa, Bu Lisa segera meletakkan tasnya dan menuangkan secangkir teh untuknya. Lauren yang seperti biasanya langsung menyelinap ke kamar bersikap acuh tak acuh. Begitu membuka pintu, ia terkejut melihat isi kamarnya yang berantakan, serpihan kertas berserakan di bawah kasurnya. Seolah tak tahu apa-apa, Lauren langsung menutup pintu kamarnya.

“Ada apa?” tanya Bu Lisa.

“Aku lelah,” jawab Pak Tommy sambil menggeleng.

“Apa ada masalah di kantor? Ceritakan padaku.”

“Aku pasrah pada anak itu. Coba saja lihat sendiri di kamar.”

Bu Lisa yang kebingungan menebak-nebak maksud Pak Tommy. Ia bangkit dari sofa dan menuju kamar Lauren. Sebelum membuka pintu, suara isakan anaknya sudah terdengar dari dalam. “Lauren, kenapa kamu menangis?”

Bu Lisa yang merasa iba pun membujuk anaknya itu, kemudian baru menyadari bahwa anaknya sedang menggenggam sesuatu.

“Apa itu?”

Lauren meremas kertas-kertas itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah.

“Eh,  kenapa dibuang?”

Lauren terus menangis, sedangkan Bu Lisa semakin bingung apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tiba-tiba, Pak Tom my muncul di balik pintu kamar yang tak tertutup rapat.

“Jika kamu sangat mem- benciku, atau bahkan tak ingin menganggapku sebagai ayahmu lagi, maka aku juga tak akan me- nganggapmu sebagai anakku lagi,” kata Pak Tommy putus asa. Lauren menangis, merasa bersalah. Suasana semakin gaduh ketika Lusy ikut menangis. Bu Lisa yang serba salah menggen- dong Lusy ke kamar dan mening- galkan Lauren sendirian.

“Mengapa kamu berkata seperti itu? Lauren pasti sakit hati mendengarnya,” kata Bu Lisa.

“Bertahun-tahun aku mendidiknya, bersusah payah dan berkorban demi dirinya, agar kelak ia bisa menjadi orang yang sukses. Tapi kini... Dia malah menyakiti hatiku dan menusukku dari belakang. Aku sangat kecewa padanya. Sia-sia semua yang sudah kulakukan untuknya. Ia tak menghargai jerih parahku selama ini. Untuk apa aku peduli pada- nya lagi?” kata Pak Tommy sambil menahan tangis. Begitulah suasana rumah Pak Tommy di malam yang mencekam itu. Tak ada tawa ria. Tegang  dan sunyi. Sejak kejadian itu, Pak Tommy benar-benar tak peduli lagi pada Lauren. Menganggap remeh, ibarat bocah tengik yang tak bisa apa-apa.

Begitu pula dengan Lauren, selalu menghindar dari ayahnya. Tak ada sepatah kata maaf, tak ada yang bersedia mundur selangkah. Seminggu kemudian, guru Lauren mengirimkan surat undangan acara pentas seni yang akan diadakan di sekolah, dan orangtua murid diharapkan hadir untuk menyaksikan pementasan anak-anaknya. Tibalah hari itu. Sudah jauh-jauh hari Pak Tommy menanti penampilan Lusy yang tentunya akan menarik. Namun, kejadian diluar dugaan menimpa Pak Tommy.

Begitu tiba di sekolah, guru Lauren langsung menyambut ke- hadiran Pak Tommy dan Bu Lisa. Dengan senyuman bahagia dan penuh dengan kebanggaan, guru Lauren mengajak Pak Tommy dan Bu Lisa menuju aula.

“Terima kasih atas kehad- irannya, Bapak dan Ibu. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi anak-anak dan tentunya

para orangtua karena dalam kesempatan ini anak-anak bisa menunjukkan bakatnya di depan orang tua mereka. Dan tentunya sebagai guru yang sudah menemaninya sekian lama, saya sangat bangga pada Lauren. Ia sangat berbakat. Ia pandai meluapkan emosinya di panggung dan dapat menggugah hati siapa saja yang menontonnya.” Pak Tommy terkejut mendengar perkataan guru Lauren, begitu juga Bu Lisa. Rasa tak percaya menghantui pikirannya. Setelah guru Lauren pergi, Pak Tommy pun berbisik.

“Kamu saja yang menonton Lauren. Aku akan pergi mencari Lusy dulu,” kata Pak Tommy.

“Jangan. Ini kesempatan langka. Kamu selalu saja menghindar dari Lauren. Bagaimana- pun juga dia tetaplah anakmu. Kali ini aku yang akan mengurus Lusy. Pergilah duduk di kursi penonton, Lauren mungkin saja menunggumu,” kata Bu Lisa.

Tanpa menunggu jawaban

Pak Tommy, Bu Lisa langsung meninggalkan tempat. Pak Tommy yang tak bisa berkata-kata

lagi pun memilih untuk duduk dan menunggu acara dimulai. Sama seperti malam itu, perasaan Pak Tommy bercampur aduk, gugup, merasa bersalah, dan ten- tunya masih sedikit kecewa. Beberapa menit kemudian, pembawa acara menaiki pentas dan acara pun dimulai. Pak Tommy yang sudah lelah menunggu meluruskan badannya yang

terasa pegal. Sambil menunggu salam pembuka, Pak Tommy mengecek ponselnya. Lama kelamaan, Pak Tommy terlena dengan ponselnya dan tak sadar bahwa berbagai penampilan dari anak-anak sudah dilewatkannya. Tiba-tiba terdengar suara petikan gitar yang mengheningkan sua- sana. Pak Tommy mengangkat kepalanya dan kini perhatiannya terpusat ke depan. Ditatapnya seorang anak laki-laki di atas pentas, tubuhnya kurus dan pu- tih, seperti Lauren. Dirogohnya kacamata dari tas hitamnya itu. Begitu kacamata dipakai, wajah anak itu tampak jelas. Pak Tommy terdiam seribu bahasa ketika yakin bahwa anak itu adalah Lauren. Tak menyangka anaknya benar-benar mahir bermain gitar. Alunan demi alunan menyentuh hati Pak Tommy. Dipejamkannya kedua mata, menghayati lirik lagu yang dinyanyikan Lauren.

 

Inilah bisikan hatiku

Hati kecil yang menangis

Menanti pujian ayah

Menanti pelukan ayah

 

Cinta yang tak pernah diungkapkan

Kasih yang selalu tertunda

Merajut asa kembali

 

Walau bunga bersemi

Walau ombak menari

Senandung kasih ayah mengayomi

Nyanyian hati ini

 

Apakah terdengar oleh ayah?

Meski gunung akan menopang langit

Aku takut tanpa ayah

Sedih tanpa ayah

 

Tepuk tangan seluruh penonton memeriahkan suasana di aula itu. Tak sedikit orang tua murid yang mengusap air matanya. Pak Tommy pun amat

sedih mendengar nyanyian anaknya tadi. Dipeluknya anak itu dengan erat, dan tetes air mata haru menitik begitu saja. Dengan lirik yang begitu sederhana, Pak Tommy tetap mengapresiasi penampilan anaknya terlebih ketika mengetahui lagu itu adalah ciptaan anaknya sendiri. Lagu itu adalah nyanyian pertama Lauren untuk dirinya setelah bertahun-tahun mereka hidup dalam ketegangan. Pak Tommy pun sadar, Lauren juga berbakat. Berkat acara di hari itu, Pak Tommy tak lagi menuntut kesempurnaan terhadap anaknya. Pak Tommy sangat senang asalkan anaknya mau berjuang dan berkarya.